ENGKAU
& HAWA NAFSU
Seorang muslim haruslah merenung dan selalu introspeksi mengenai pengaruh hawa
nafsu terhadap dirinya Andaikan sampai berita kepadamu bahwa seseorang mencaci
maki Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. Kemudian orang lain mencaci Nabi
Daud Alaihis Salam. Sedangkan orang yang ketiga mencaci maki Umar atau Ali
Radhiallahu 'anhuma, dan orang yang keempat mencaci maki gurumu, serta orang
yang kelima mencaci maki guru orang lain.
Sumber :
Ma laa yasa'u Al Muslimu Jahluhu min Dhzruriyat At Tafakkur (Nukilan dari buku "Al Qaid Ila Tashih Al Aqa'id")
Oleh :
Syaikh Abdurahman bin Yahya Al Mu'allimi Al yamani rahimahullah Muqaddimah dan Ta'liq
Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid Al Atsari.
Apakah kemarahan dan usahamu untuk memberikan
hukuman dan pelajaran kepada mereka telah sesuai dengan ketentuan
syariat? yaitu, kemarahanmu kepada orang pertama dan kedua hampir sama. Tetapi
jauh lebih keras jika dibandingkan dengan yang lainnya. Kemarahanmu kepada
orang ketiga harus lebih lunak dibandingkan dengan yang awal, akan tetapi
harus lebih keras dibandingkan dengan yang sesudahnya. Kemarahanmu kepada orang
keempat dan kelima hampir sama, akan tetapi jauh lebih lunak jika
dibandingkan dengan yang lainnya.
Misalkan engkau memperhatikan suatu masalah dimana ulama idolamu mempunyai
suatu pendapat tentangnya, dan ulama lain menyalahi pendapat tersebut. Apakah
hawa nafsumu yang lebih berperan dalam mentarjih (menguatkan) salah satu dari
dua pendapat tadi ? Ataukah engkau menelitinya supaya dapat diketahui mana yang
lebih rajih diantara keduanya dan engkau dapat menjelaskan kerajihannya
tersebut. (Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid mengomentari ucapan diatas:
"Janganlah sekali-kali engkau mencari yang rajih bagi salah satu dari dua
pendapat itu semata-mata karena orang yang mengucapkan adalah orang yang engkau
kagumi. Perbuatan ini adalah perbuatan muqallid yang jumud. Hati-hatilah kamu
jangan seperti mereka ! Dan merupakan karunia Allah Shuhanahu wa Ta'ala,
banyak dari umat ini yang telah meninggalkan fanatik madzhab, akan tetapi
datang penggantinya yang lebih dahsyat dan lebih memilukan, yaitu fanatik
kelompok ! Kami memohon pertolongan kepada Allah, dan tidak ada kekuatan
kecuali
dengan pertolonganNya."
Misalkan pula engkau membaca sebuah ayat maka nampak bagimu bahwa ayat tersebut
sesuai dengan ucapan ulama idolamu. Kemudian engkau membaca ayat yang
lain dan nampak olehmu dari ayat tersebut menyalahi ucapan yang
lain dari ulama tersebut. Apakah engkau berusaha mencari kejelasan tentang dua
ayat tersebut yaitu dengan mengkajinya secara seksama, ataukah engkau
bersikap tidak perduli, dan tetap taklid kepada ulama idolamu tadi ?
Misalkan pula ada seseorang yang engkau cintai dan yang lain engkau
membencinya. Keduanya berselisih dalam suatu masalah, kemudian engkau dimintai
pendapatmu oleh orang lain tentang perselisihan tersebut. Ketika engkau
meneliti permasalahan tersebut, apakah hawa nafsumu yang berperan sehingga
engkau memihak orang yang engkau cintai?
Misalkan pula engkau mengetahui seseorang berbuat kemungkaran dan engkau
berhalangan untuk mencegahnya. Kemudian sampai berita kepadamu ada orang lain
yang mengingkari orang tersebut dengan kerasnya. Maka apakah anggapan baikmu
terhadap pengingkaran tersebut akan sama apabila yang mengingkari itu
temanmu atau musuhmu, begitu pula bagaimana sikapmu apabila yang diingkari itu
temanmu atau musuhmu?
Periksalah dirimu ! Engkau akan dapatkan dirimu sendiri ditimpa musibah
berupa perbuatan maksiat atau kekurangan dalam hal dien. Juga engkau dapati
orang yang kau benci ditimpa musibah berupa perbuatan maksiat dan kekurangan
lainnya dalam syariat yang tidak lebih berat dari maksiat yang menimpamu. Maka
apakah engkau dapati kebencian kepada orang tersebut sama dengan kebencianmu
terhadap dirimu sendiri? Dan apakah engkau dapatkan kemarahanmu kepadanya?
Sesungguhnya pintu-pintu hawa nafsu tidak terhitung banyaknya. Saya mempunyai pengalaman
pribadi ketika memperhatikan satu permasalahan yang saya anggap hawa nafsu
tidak ikut campur didalamnya. Saya mendapatkan satu pengertian dalam masalah
tersebut, lalu saya menetapkannya dengan satu ketetapan. Setelah itu saya
melihat sesuatu yang membuat cacat ketetapan tadi, tetap saja saya gigih
mempertahankan kesalahan tersebut dan jiwaku menyuruhku untuk memberikan
pembelaan dan menutup mata, serta menolak untuk mengadakan penelitian lebih
lanjut secara mendalam. Hal ini dikarenakan ketika saya menetapkan pengertian
pertama yang saya kagumi itu, hawa nafsu saya condong untuk
membenarkannya. Padahal belum ada seorangpun yang tahu akan hal ini. Maka
bagaimana jika sekiranya hal tersebut sudah saya sebar luaskan ke khalayak
ramai, kemudian setelah itu nampak olehku bahwa pengertian tersebut salah?
Bagaimana pula apabila kesalahan itu bukan saya sendiri yang mengetahuinya
melainkan orang lain
yang mengkritikku? Maka bagaimana pula jika orang yang mengkritik
tersebut adalah orang yang aku benci? Hal ini bukan berarti bahwa seorang
muslim dituntut untuk tidak mempunyai hawa nafsu, karena hal ini diluar
kemampuannya. Tetapi kewajiban seorang muslim adalah mengoreksi diri tentang
hawa nafsunya supaya dia mengetahui kemudian mengekangnya dan memperhatikan
dengan seksama dalam hal kebenaran sebagai suatu kebenaran. Apabila jelas
baginya bahwa kebenaran itu menyalahi hawa nafsunya, maka dia harus
mengutamakan kebenaran daripada mengikuti hawa nafsunya.
Seorang muslim terkadang dalam mengawasi hawa nafsunya. Ia bersikap toleran
terhadap kebatilan sehingga akhirnya ia condong kepada kebatilan dan
membelanya. Dia menyangka bahwa dirinya menyimpang dari kebenaran. Dan
menyangka bahwa dirinya tidak sedang memusuhi kebenaran. Dan ini hampir tidak
ada yang selamat darinya kecuali orang yang dipelihara oleh Allah Shuhanahu wa
Ta'ala.
Hanya saja manusia bertingkat-tingkat dalam sikapnya terhadap hawa nafsu.
Diantara mereka ada yang sering terbawa arus hawa nafsunya sampai
melampaui batas sehingga orang yang tidak mengetahui tabiat manusia dan
pengaruh hawa nafsu yang demikian besar menyangka bahwa orang tadi melakukan
kesalahan yang fatal dengan sengaja. Diantara manusia ada yang dapat mengekang
hawa nafsunya sehingga jarang mengikuti hawa nafsunya. Oleh sebab itu
barangsiapa yang sering membaca buku-buku dari penulis yang sama sekali tidak
menyandarkan ijtihad mereka kepada Al-Qur'an dan As Sunnah, maka dia
akan mendapatkan banyak keanehan. Hal ini tidak mudah diketahui
kecuali oleh orang-orang yang hawa nafsunya tidak condong kepada buku-buku
tersebut, tetapi condong kepada kebenaran. Kalau hawa nafsunya cenderung kepada
buku-buku tersebut bahkan ia sudah dikuasai hawa nafsunya, maka dia menyangka
bahwa orang-orang yang sependapat dengannya itu terbebas dari mengikuti hawa
nafsu, sedangkan orang-orang yang
bertentangan dengannya adalah orang-orang mengikuti hawa nafsu. Orang
salaf dahulu ada yang berlebihan dalam mengekang hawa nafsunya sampai ia
terjerumus ke dalam kesalahan pada sisi yang lain. Seperti seorang hakim yang
mengadili dua orang yang berselisih, orang yang pertama adalah saudara
kandungnya sedangkan yang kedua adalah musuhnya. Ia berlebihan di dalam
mengekang hawa nafsunya sampai ia mendzalimi saudara kandungnya sendiri. Ia
seperti orang yang berjalan di tepi jurang yang curam di kanan kirinya,
berusaha menghindar jurang yang disebelah kanannya namun berlebihan sehingga ia
terjatuh ke dalam jurang yang disebelah kirinya.
Ma laa yasa'u Al Muslimu Jahluhu min Dhzruriyat At Tafakkur (Nukilan dari buku "Al Qaid Ila Tashih Al Aqa'id")
Oleh :
Syaikh Abdurahman bin Yahya Al Mu'allimi Al yamani rahimahullah Muqaddimah dan Ta'liq
Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid Al Atsari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar